PAI dan BP Kelas VIII BAB 5
Tujuan Pembelajaran
- Menjelaskan sejarah keemasan Islam pada era Daulah Bani Abbasiyah serta meyakini bahwa mencari ilmu merupakan ajaran agama Islam dan memiliki semangat untuk menjalankannya.
- Menjelaskan perkembangan seni dan Bayt al-Ḥikmah di era Daulah Bani Abbasiyah serta memiliki kecintaan terhadap seni dan pengetahuan Islam dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk mendalaminya.
- Membuat infografis Bayt al-Ḥikmah sebagai bentuk Keharmonisan intelektual antar-agama.
Materi Pembelajaran
1. Sejarah Keemasan Islam pada Era Daulah Bani Abbasiyah
Latar Belakang Berdirinya Daulah Abbasiyah
Daulah Abbasiyah adalah dinasti kedua dalam sejarah pemerintahan Islam setelah Daulah Umayyah. Dinasti ini didirikan oleh Abu al-Abbas as-Saffah pada tahun 132 H/750 M setelah berhasil menggulingkan kekuasaan Daulah Umayyah. Nama Abbasiyah diambil dari nama paman Nabi Muhammad SAW, yaitu Abbas bin Abdul Muthalib, yang merupakan kakek moyang pendiri dinasti ini.
Periode Keemasan Daulah Abbasiyah
Masa keemasan Daulah Abbasiyah terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid (786-809 M) dan putranya al-Ma'mun (813-833 M). Pada masa ini, Baghdad menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan dunia. Beberapa pencapaian penting pada masa ini antara lain:
- Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat dalam berbagai bidang seperti matematika, astronomi, kedokteran, filsafat, dan sastra
- Penerjemahan besar-besaran karya-karya ilmiah dari Yunani, Persia, dan India ke dalam bahasa Arab
- Pembangunan Bayt al-Ḥikmah (Rumah Kebijaksanaan) sebagai pusat penelitian dan penerjemahan
- Kemajuan ekonomi yang ditandai dengan berkembangnya perdagangan internasional
- Perkembangan seni dan arsitektur Islam yang mencapai puncaknya
Faktor-faktor Pendukung Kemajuan Daulah Abbasiyah
- Dukungan Penguasa: Para khalifah Abbasiyah, terutama Harun ar-Rasyid dan al-Ma'mun, sangat mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan memberikan penghargaan tinggi kepada para ilmuwan.
- Keterbukaan terhadap Peradaban Lain: Daulah Abbasiyah terbuka terhadap ilmu pengetahuan dari berbagai peradaban seperti Yunani, Persia, India, dan Cina.
- Gerakan Penerjemahan: Adanya gerakan penerjemahan besar-besaran karya-karya ilmiah dari berbagai bahasa ke dalam bahasa Arab.
- Stabilitas Politik dan Ekonomi: Kestabilan politik dan kemakmuran ekonomi memberikan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
- Semangat Islam: Ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk mencari ilmu menjadi motivasi kuat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
2. Perkembangan Seni di Era Daulah Bani Abbasiyah
Seni Arsitektur
Arsitektur Islam mencapai puncak kejayaannya pada masa Daulah Abbasiyah. Beberapa karya arsitektur terkenal antara lain:
- Kota Baghdad yang dibangun oleh Khalifah al-Mansur dengan bentuk lingkaran (Madinat al-Mudawwarah)
- Istana-istana megah seperti Istana Ukhaidir dan Istana Balkuwara
- Masjid-masjid dengan gaya khas Abbasiyah yang menggabungkan unsur-unsur arsitektur Persia dan Bizantium
- Penggunaan kubah, menara, dan lengkungan yang menjadi ciri khas arsitektur Islam
Seni Kaligrafi
Kaligrafi Arab berkembang pesat pada masa Abbasiyah dan menjadi salah satu bentuk seni Islam yang paling penting. Beberapa gaya kaligrafi yang berkembang antara lain:
- Khat Kufi: gaya kaligrafi dengan bentuk huruf yang kaku dan geometris
- Khat Naskhi: gaya kaligrafi yang lebih halus dan mudah dibaca
- Khat Tsuluts: gaya kaligrafi dengan proporsi sepertiga yang sering digunakan untuk dekorasi
Seni Musik dan Sastra
Musik dan sastra juga berkembang pesat pada masa Abbasiyah:
- Munculnya musisi-musisi terkenal seperti Ibrahim al-Mausili dan Ishaq al-Mausili
- Pengembangan alat musik seperti 'ud (gambus), rebab, dan seruling
- Berkembangnya berbagai genre sastra seperti puisi, prosa, dan kisah-kisah
- Karya sastra terkenal seperti "Seribu Satu Malam" (Alf Laylah wa Laylah) dan "Kalilah wa Dimnah"
Seni Dekoratif
Seni dekoratif Islam berkembang dengan karakteristik khasnya:
- Arabesque: pola-pola geometris dan floral yang rumit
- Keramik dan tembikar dengan glasir berwarna-warni
- Seni ukir pada kayu, logam, dan gading
- Seni tekstil seperti karpet, sutra, dan kain berhias
3. Bayt al-Ḥikmah: Pusat Ilmu Pengetahuan Islam
Sejarah Pendirian Bayt al-Ḥikmah
Bayt al-Ḥikmah (Rumah Kebijaksanaan) didirikan oleh Khalifah Harun ar-Rasyid dan dikembangkan lebih lanjut oleh putranya, Khalifah al-Ma'mun, pada awal abad ke-9 M di Baghdad. Lembaga ini awalnya berfungsi sebagai perpustakaan kerajaan, namun kemudian berkembang menjadi pusat penelitian, penerjemahan, dan pembelajaran yang komprehensif.
Fungsi dan Peran Bayt al-Ḥikmah
- Pusat Penerjemahan: Menerjemahkan karya-karya ilmiah dari bahasa Yunani, Persia, Sansekerta, dan Suriah ke dalam bahasa Arab
- Perpustakaan: Menyimpan ribuan manuskrip dari berbagai bidang ilmu
- Pusat Penelitian: Tempat para ilmuwan melakukan penelitian dalam berbagai bidang seperti astronomi, matematika, kedokteran, kimia, dan filsafat
- Lembaga Pendidikan: Tempat belajar bagi para pelajar dari berbagai penjuru dunia
- Observatorium: Dilengkapi dengan observatorium untuk penelitian astronomi
Tokoh-tokoh Penting di Bayt al-Ḥikmah
- Hunayn ibn Ishaq (809-873 M): Seorang Kristen Nestorian yang menjadi kepala penerjemah dan menerjemahkan banyak karya Yunani, terutama karya-karya Galen dan Hippocrates
- Al-Khawarizmi (780-850 M): Matematikawan yang mengembangkan aljabar dan algoritma
- Al-Kindi (801-873 M): Filsuf Arab pertama yang mengintegrasikan filsafat Yunani dengan pemikiran Islam
- Thabit ibn Qurra (826-901 M): Matematikawan, astronom, dan penerjemah dari komunitas Sabian
- Yuhanna ibn Masawaih (777-857 M): Dokter Kristen yang menjadi direktur Bayt al-Ḥikmah pada masa al-Ma'mun
Keharmonisan Intelektual Antar-Agama di Bayt al-Ḥikmah
Bayt al-Ḥikmah menjadi contoh keharmonisan intelektual antar-agama pada masa kejayaan Islam:
- Para ilmuwan dari berbagai latar belakang agama (Islam, Kristen, Yahudi, Zoroaster) bekerja bersama dalam suasana saling menghormati
- Pengetahuan dihargai terlepas dari sumbernya, sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW: "Carilah ilmu walau ke negeri Cina"
- Terjadi dialog intelektual yang produktif antara berbagai tradisi pemikiran
- Kontribusi ilmuwan non-Muslim diakui dan dihargai oleh para khalifah Muslim
- Menjadi model bagi kolaborasi ilmiah lintas budaya dan agama
4. Hikmah dan Pelajaran dari Era Keemasan Islam
- Pentingnya Ilmu Pengetahuan dalam Islam: Era keemasan Islam menunjukkan bahwa mencari ilmu adalah bagian integral dari ajaran Islam.
- Keterbukaan dan Inklusivitas: Kemajuan peradaban Islam didukung oleh keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan dari berbagai sumber dan kolaborasi dengan ilmuwan dari berbagai latar belakang.
- Peran Pemimpin: Dukungan dari para khalifah terhadap ilmu pengetahuan menunjukkan pentingnya peran pemimpin dalam memajukan peradaban.
- Keseimbangan antara Ilmu Agama dan Ilmu Dunia: Era keemasan Islam menunjukkan bahwa tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia dalam Islam.
- Inspirasi bagi Generasi Sekarang: Sejarah keemasan Islam dapat menjadi inspirasi bagi generasi Muslim saat ini untuk kembali menjadi pelopor dalam ilmu pengetahuan dan peradaban.
Infografis Bayt al-Ḥikmah
BAYT AL-ḤIKMAH: RUMAH KEBIJAKSANAAN
DEFINISI & SEJARAH
Bayt al-Ḥikmah (Rumah Kebijaksanaan) adalah lembaga akademik yang didirikan oleh Khalifah Harun ar-Rasyid dan dikembangkan oleh Khalifah al-Ma'mun pada awal abad ke-9 M di Baghdad. Menjadi pusat ilmu pengetahuan terbesar pada masa kejayaan Islam.
FUNGSI UTAMA
- Perpustakaan dengan ribuan manuskrip
- Pusat penerjemahan karya ilmiah
- Lembaga penelitian multidisiplin
- Observatorium astronomi
- Akademi pendidikan tinggi
KEHARMONISAN INTELEKTUAL ANTAR-AGAMA
Bayt al-Ḥikmah menjadi contoh keharmonisan intelektual di mana ilmuwan dari berbagai latar belakang agama dan budaya bekerja bersama dalam suasana saling menghormati. Pengetahuan dihargai terlepas dari sumbernya, sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW: "Carilah ilmu walau ke negeri Cina".
TOKOH-TOKOH PENTING
Hunayn ibn Ishaq
(809-873 M)
Kristen Nestorian yang menjadi kepala penerjemah. Menerjemahkan karya-karya Galen dan Hippocrates.
Al-Khawarizmi
(780-850 M)
Matematikawan Muslim yang mengembangkan aljabar dan algoritma. Karyanya diterjemahkan ke bahasa Latin.
Thabit ibn Qurra
(826-901 M)
Matematikawan dan astronom dari komunitas Sabian. Berkontribusi dalam geometri dan astronomi.
KONTRIBUSI ILMIAH
Matematika
Pengembangan aljabar, algoritma, trigonometri, dan angka nol
Astronomi
Pemetaan bintang, pengembangan astrolabe, dan teori heliosentris
Kedokteran
Pengembangan farmakologi, bedah, dan anatomi tubuh manusia
Kimia
Pengembangan distilasi, oksidasi, dan klasifikasi zat
TIMELINE KEJAYAAN DAULAH ABBASIYAH
750 M
Berdirinya Daulah Abbasiyah oleh Abu al-Abbas as-Saffah setelah menggulingkan Daulah Umayyah
762 M
Khalifah al-Mansur membangun kota Baghdad sebagai ibu kota baru dengan bentuk lingkaran (Madinat al-Mudawwarah)
786-809 M
Masa pemerintahan Harun ar-Rasyid yang menandai awal masa keemasan. Pendirian awal Bayt al-Ḥikmah
813-833 M
Masa pemerintahan al-Ma'mun. Pengembangan Bayt al-Ḥikmah mencapai puncaknya. Gerakan penerjemahan besar-besaran
836 M
Pembangunan observatorium astronomi di Baghdad dan Damaskus
900-950 M
Masa kejayaan ilmu kedokteran dengan tokoh seperti al-Razi (Rhazes) dan kemudian Ibn Sina (Avicenna)
1258 M
Kehancuran Baghdad oleh tentara Mongol di bawah Hulagu Khan. Bayt al-Ḥikmah dihancurkan dan ribuan buku dibuang ke Sungai Tigris
PELAJARAN DARI BAYT AL-ḤIKMAH UNTUK MASA KINI
Dialog Antar-Agama
Bayt al-Ḥikmah menunjukkan bahwa kolaborasi intelektual antar-agama dapat menghasilkan kemajuan peradaban. Model ini dapat diterapkan untuk dialog antar-agama di era modern.
Integrasi Ilmu
Tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia. Islam mendorong pengembangan semua cabang ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan umat manusia.
Semangat Inovasi
Umat Islam perlu menghidupkan kembali semangat inovasi dan penelitian seperti yang dicontohkan oleh para ilmuwan di Bayt al-Ḥikmah untuk berkontribusi pada kemajuan global.
Evaluasi Pembelajaran
Ujian ini terdiri dari 25 soal yang dibagi menjadi 5 level. Setiap level berisi 5 pertanyaan. Sistem ujian menggunakan Multistage Adaptive Testing (MSAT), di mana kamu harus berhasil menyelesaikan satu level untuk melanjutkan ke level berikutnya.
Waktu pengerjaan: 60 menit
Selamat mengerjakan dan semoga sukses!
Level 1 - Soal 1/5
Hasil Ujian
Nama:
Kelas:
Level Tertinggi:
Jawaban Benar:
Jawaban Salah:
Nilai:
Dashboard Guru
Daftar Nilai Siswa
| No | Nama | Kelas | Level Tertinggi | Benar | Salah | Nilai | Detail |
|---|