PAI dan BP Kelas IX BAB 10
Tujuan Pembelajaran
✓ Mendeskripsikan sejarah peradaban Islam pada masa Syafawi di Persia
✓ Menganalisis perkembangan peradaban Islam pada masa Syafawi di Persia
✓ Membuat karya berupa timeline sejarah peradaban Islam pada masa Syafawi di Persia
✓ Meyakini bahwa Islam adalah agama yang rahmatan li-al-'ālamīn
✓ Terbiasa berperilaku gigih dalam berjuang dan menghargai perbedaan
Materi Pembelajaran
A. Sejarah Berdirinya Dinasti Syafawi
Dinasti Syafawi atau Safawi (bahasa Persia: صفویان; Safaviyān) adalah salah satu dinasti Islam terbesar yang pernah berkuasa di Persia (Iran) dari tahun 1501 hingga 1736. Dinasti ini didirikan oleh Ismail I yang berhasil menyatukan seluruh Persia sebagai satu negara yang berdaulat.
Asal Usul Dinasti Syafawi:
Dinasti Syafawi berasal dari sebuah tarekat sufi yang bernama Tarekat Syafawiyah yang didirikan oleh Syekh Safi al-Din (1252-1334) di Ardabil, Azerbaijan. Tarekat ini awalnya adalah tarekat sunni yang kemudian beralih menjadi syiah pada masa kepemimpinan Junaid (kakek Ismail I).
Nama "Syafawi" diambil dari nama pendiri tarekat tersebut, yaitu Syekh Safi al-Din. Tarekat ini berkembang menjadi gerakan politik-militer yang kuat di bawah kepemimpinan keturunan Syekh Safi al-Din, terutama setelah mereka mengadopsi paham Syiah.
Ismail I, pendiri Dinasti Syafawi, adalah keturunan ketujuh dari Syekh Safi al-Din. Ia lahir pada tahun 1487 dan menjadi pemimpin tarekat pada usia yang sangat muda setelah ayahnya, Haydar, terbunuh dalam pertempuran melawan Ak Koyunlu pada tahun 1494.
Dengan dukungan dari suku-suku Turki Qizilbash (yang berarti "kepala merah" karena topi merah yang mereka kenakan), Ismail berhasil mengalahkan Ak Koyunlu dan merebut Tabriz pada tahun 1501. Di Tabriz, ia memahkotai dirinya sebagai Shah (Raja) dan mendirikan Dinasti Syafawi. Ia juga menjadikan Syiah Dua Belas Imam sebagai agama resmi kerajaan.
Faktor-faktor yang Mendukung Berdirinya Dinasti Syafawi:
- Dukungan dari suku-suku Turki Qizilbash yang setia kepada keluarga Syafawi.
- Kemampuan militer dan kepemimpinan Ismail I yang luar biasa.
- Kelemahan dan perpecahan di antara dinasti-dinasti yang berkuasa di wilayah Persia pada saat itu.
- Penggunaan identitas Syiah sebagai alat pemersatu dan pembeda dari Kesultanan Usmani yang Sunni.
- Klaim keturunan dari Imam Ali bin Abi Thalib yang memberikan legitimasi religius.
B. Perkembangan Peradaban Islam pada Masa Syafawi
Dinasti Syafawi mengalami perkembangan yang pesat dalam berbagai bidang, terutama pada masa pemerintahan Shah Abbas I (1588-1629) yang dikenal sebagai masa keemasan Dinasti Syafawi. Berikut adalah perkembangan peradaban Islam pada masa Syafawi dalam berbagai bidang:
1. Bidang Politik dan Pemerintahan
- Sistem pemerintahan yang sentralistik dengan raja (Shah) sebagai pemegang kekuasaan tertinggi.
- Pembentukan birokrasi yang efisien dengan mengangkat pejabat-pejabat dari kalangan Persia asli, bukan dari suku Qizilbash.
- Pembentukan tentara reguler yang loyal kepada Shah, tidak bergantung pada suku-suku Qizilbash.
- Hubungan diplomatik yang luas dengan negara-negara Eropa untuk mengimbangi kekuatan Kesultanan Usmani.
- Pemindahan ibu kota dari Tabriz ke Isfahan pada masa Shah Abbas I untuk alasan strategis.
2. Bidang Ekonomi
- Pengembangan perdagangan internasional, terutama sutra, karpet, dan keramik.
- Pembangunan jaringan jalan dan karavanserai (penginapan untuk kafilah dagang) untuk mendukung perdagangan.
- Pengembangan sistem irigasi untuk meningkatkan produksi pertanian.
- Pemberian hak-hak istimewa kepada pedagang Eropa untuk mendorong perdagangan internasional.
- Pengendalian rute perdagangan sutra yang menghubungkan Timur dan Barat.
3. Bidang Sosial dan Keagamaan
- Penetapan Syiah Dua Belas Imam sebagai agama resmi negara.
- Pembangunan masjid-masjid, madrasah, dan pusat-pusat keagamaan Syiah.
- Pengangkatan ulama Syiah dalam struktur pemerintahan.
- Penerjemahan kitab-kitab Syiah dari bahasa Arab ke bahasa Persia.
- Perayaan hari-hari besar Syiah, terutama Asyura, secara besar-besaran.
- Toleransi terhadap minoritas agama, seperti Kristen, Yahudi, dan Zoroaster, meskipun dengan beberapa pembatasan.
4. Bidang Ilmu Pengetahuan
- Pengembangan ilmu filsafat, terutama filsafat Hikmah yang dipelopori oleh Mulla Sadra.
- Kemajuan dalam bidang astronomi dengan pembangunan observatorium.
- Pengembangan ilmu kedokteran dan farmasi.
- Penulisan karya-karya sejarah dan geografi.
- Pendirian perpustakaan-perpustakaan dan pusat-pusat kajian ilmiah.
5. Bidang Seni dan Arsitektur
- Pembangunan kota Isfahan sebagai salah satu kota terindah di dunia dengan konsep "Setengah Dunia" (Nisf-e Jahan).
- Pembangunan Maidan-e Naqsh-e Jahan (Lapangan Naqsh-e Jahan) yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan megah seperti Masjid Shah, Masjid Sheikh Lutfullah, dan Istana Ali Qapu.
- Pengembangan seni kaligrafi, terutama gaya Nastaliq.
- Kemajuan dalam seni lukis miniatur Persia.
- Pengembangan seni keramik, terutama keramik biru-putih.
- Produksi karpet Persia yang sangat indah dan bernilai tinggi.
6. Bidang Sastra
- Pengembangan sastra Persia dengan munculnya penyair-penyair besar seperti Sa'ib Tabrizi.
- Penulisan karya-karya sastra dalam bahasa Persia yang mencapai puncak keindahannya.
- Penulisan syair-syair yang memuji Imam Ali dan keluarganya.
- Pengembangan prosa Persia dalam karya-karya sejarah dan filsafat.
C. Tokoh-tokoh Penting Dinasti Syafawi
Dinasti Syafawi memiliki beberapa tokoh penting yang berperan dalam perkembangan dan kemajuan dinasti ini. Berikut adalah beberapa tokoh penting Dinasti Syafawi:
1. Ismail I (1501-1524)
Pendiri Dinasti Syafawi yang berhasil menyatukan seluruh Persia di bawah kekuasaannya. Ia menjadikan Syiah Dua Belas Imam sebagai agama resmi negara dan membangun fondasi bagi dinasti yang akan bertahan lebih dari dua abad. Ismail I juga dikenal sebagai penyair yang menulis dengan nama samaran "Khata'i".
2. Tahmasp I (1524-1576)
Putra dan penerus Ismail I yang memerintah selama lebih dari 50 tahun. Ia berhasil mempertahankan kekuasaan Syafawi dari serangan Kesultanan Usmani dan mengembangkan seni lukis miniatur Persia. Tahmasp I juga dikenal karena kebijakan keagamaannya yang ketat.
3. Abbas I (1588-1629)
Dikenal sebagai Abbas yang Agung, ia adalah penguasa terbesar Dinasti Syafawi. Di bawah kepemimpinannya, Dinasti Syafawi mencapai puncak kejayaannya. Ia melakukan reformasi militer, politik, dan ekonomi yang signifikan. Abbas I juga memindahkan ibu kota ke Isfahan dan membangunnya menjadi salah satu kota terindah di dunia.
4. Mulla Sadra (1571-1640)
Seorang filsuf, teolog, dan mistikus terkemuka pada masa Dinasti Syafawi. Ia mengembangkan aliran filsafat Hikmah yang menggabungkan elemen-elemen dari filsafat peripatetik, iluminasionis, dan mistisisme sufi. Karya utamanya adalah "Al-Asfar al-Arba'ah" (Empat Perjalanan).
5. Sheikh Baha'i (1547-1621)
Seorang ulama, filsuf, arsitek, matematikawan, dan astronom terkemuka pada masa Shah Abbas I. Ia merancang Masjid Shah di Isfahan dan menulis banyak karya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Sheikh Baha'i juga berperan dalam pengembangan sistem irigasi di Isfahan.
6. Sa'ib Tabrizi (1592-1676)
Salah satu penyair terbesar pada masa Dinasti Syafawi. Ia dikenal karena gaya puisinya yang unik dan pengaruhnya yang besar terhadap perkembangan sastra Persia. Sa'ib Tabrizi menulis lebih dari 300.000 bait puisi.
D. Kemajuan Peradaban Islam pada Masa Syafawi
Dinasti Syafawi memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan peradaban Islam, terutama dalam bidang arsitektur, seni, dan filsafat. Berikut adalah beberapa kemajuan peradaban Islam yang dicapai pada masa Dinasti Syafawi:
1. Arsitektur
Arsitektur Syafawi mencapai puncaknya pada masa Shah Abbas I dengan pembangunan kota Isfahan. Beberapa karya arsitektur terbaik dari masa Syafawi adalah:
- Maidan-e Naqsh-e Jahan (Lapangan Naqsh-e Jahan): Salah satu lapangan terbesar di dunia yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan megah.
- Masjid Shah (sekarang dikenal sebagai Masjid Imam): Salah satu masjid terindah di dunia dengan kubah biru yang megah dan mosaik yang rumit.
- Masjid Sheikh Lutfullah: Masjid pribadi keluarga kerajaan dengan kubah yang dihiasi mosaik yang sangat indah.
- Istana Ali Qapu: Istana enam lantai yang berfungsi sebagai gerbang menuju kompleks istana kerajaan.
- Jembatan Khaju dan Si-o-se Pol: Jembatan-jembatan indah yang melintasi Sungai Zayandeh di Isfahan.
2. Seni
Seni Syafawi sangat beragam dan mencapai tingkat keindahan yang tinggi. Beberapa bentuk seni yang berkembang pada masa Syafawi adalah:
- Lukisan Miniatur: Lukisan-lukisan kecil dan detail yang menggambarkan adegan-adegan dari kisah-kisah epik, sejarah, dan kehidupan istana.
- Kaligrafi: Pengembangan gaya kaligrafi Nastaliq yang menjadi ciri khas seni tulis Persia.
- Keramik: Produksi keramik biru-putih yang terinspirasi dari keramik Cina tetapi dengan gaya khas Persia.
- Karpet: Pembuatan karpet-karpet Persia yang sangat indah dengan motif-motif rumit dan warna-warna cerah.
- Seni Logam: Pembuatan benda-benda dari logam seperti piring, mangkuk, dan senjata dengan ukiran dan dekorasi yang indah.
3. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
Masa Syafawi juga ditandai dengan perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan yang signifikan:
- Filsafat Hikmah: Pengembangan aliran filsafat yang menggabungkan elemen-elemen dari filsafat peripatetik, iluminasionis, dan mistisisme sufi oleh Mulla Sadra.
- Astronomi: Pembangunan observatorium dan pengembangan ilmu astronomi untuk keperluan navigasi, penentuan waktu shalat, dan penanggalan.
- Kedokteran: Pengembangan ilmu kedokteran dengan penulisan berbagai risalah medis dan pembangunan rumah sakit.
- Matematika: Kontribusi dalam bidang aljabar, geometri, dan trigonometri oleh ilmuwan-ilmuwan seperti Sheikh Baha'i.
4. Sastra
Sastra Persia mencapai salah satu puncak kejayaannya pada masa Syafawi:
- Puisi: Pengembangan gaya puisi baru yang lebih kompleks dan filosofis oleh penyair-penyair seperti Sa'ib Tabrizi.
- Prosa: Penulisan karya-karya sejarah, biografi, dan risalah-risalah filosofis dalam bahasa Persia yang indah.
- Sastra Keagamaan: Penulisan karya-karya yang memuji Imam Ali dan keluarganya, serta karya-karya yang menjelaskan ajaran Syiah.
E. Keruntuhan Dinasti Syafawi
Setelah mencapai puncak kejayaannya pada masa Shah Abbas I, Dinasti Syafawi mulai mengalami kemunduran dan akhirnya runtuh pada tahun 1736. Beberapa faktor yang menyebabkan keruntuhan Dinasti Syafawi adalah:
1. Lemahnya Kepemimpinan Setelah Shah Abbas I
Penguasa-penguasa setelah Shah Abbas I tidak memiliki kemampuan kepemimpinan yang sama. Banyak di antara mereka yang dibesarkan di harem dan tidak memiliki pengalaman dalam pemerintahan dan militer. Hal ini menyebabkan melemahnya kontrol pusat terhadap daerah-daerah.
2. Konflik Internal
Terjadi konflik internal di kalangan elit penguasa, terutama antara kelompok Qizilbash dan pejabat-pejabat dari kalangan Persia asli. Konflik ini melemahkan kesatuan dan kekuatan dinasti.
3. Masalah Ekonomi
Terjadi kemunduran ekonomi akibat berkurangnya perdagangan internasional karena persaingan dengan rute-rute perdagangan baru yang dikuasai oleh bangsa Eropa. Selain itu, pemborosan keuangan negara untuk kemewahan istana juga menjadi faktor penting.
4. Serangan dari Luar
Dinasti Syafawi menghadapi serangan dari berbagai pihak, terutama dari suku-suku Afghan di timur. Pada tahun 1722, Mahmud Afghan berhasil merebut Isfahan dan mengakhiri kekuasaan efektif Dinasti Syafawi.
5. Kemunduran Militer
Terjadi kemunduran dalam kekuatan militer Syafawi akibat kurangnya modernisasi dan inovasi. Sementara itu, musuh-musuh mereka, seperti Kesultanan Usmani dan suku-suku Afghan, terus memperkuat kekuatan militer mereka.
Akhirnya, pada tahun 1736, Nadir Shah, seorang jenderal dari suku Afshar, menggulingkan penguasa Syafawi terakhir dan mendirikan Dinasti Afsharid. Meskipun demikian, warisan budaya dan peradaban Dinasti Syafawi tetap bertahan dan memengaruhi perkembangan Iran hingga saat ini.
F. Hikmah dan Pelajaran dari Sejarah Dinasti Syafawi
Dari sejarah Dinasti Syafawi, kita dapat mengambil beberapa hikmah dan pelajaran penting:
1. Pentingnya Kepemimpinan yang Kuat dan Visioner
Kesuksesan Dinasti Syafawi pada masa Ismail I dan Shah Abbas I menunjukkan pentingnya kepemimpinan yang kuat dan visioner dalam membangun dan memajukan sebuah peradaban. Sebaliknya, lemahnya kepemimpinan setelah Shah Abbas I menjadi salah satu faktor keruntuhan dinasti ini.
2. Peran Penting Identitas dan Ideologi
Dinasti Syafawi berhasil menggunakan identitas Syiah sebagai alat pemersatu dan pembeda dari Kesultanan Usmani yang Sunni. Hal ini menunjukkan peran penting identitas dan ideologi dalam membangun kesatuan dan loyalitas.
3. Pentingnya Toleransi dan Keberagaman
Meskipun menjadikan Syiah sebagai agama resmi, Dinasti Syafawi tetap memberikan toleransi kepada penganut agama lain seperti Kristen, Yahudi, dan Zoroaster. Hal ini menunjukkan bahwa toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman adalah faktor penting dalam membangun peradaban yang maju.
4. Pentingnya Inovasi dan Adaptasi
Kemajuan Dinasti Syafawi dalam berbagai bidang menunjukkan pentingnya inovasi dan adaptasi terhadap perkembangan zaman. Sebaliknya, kurangnya inovasi dan adaptasi, terutama dalam bidang militer, menjadi salah satu faktor keruntuhan dinasti ini.
5. Peran Penting Seni dan Budaya
Dinasti Syafawi memberikan perhatian besar terhadap pengembangan seni dan budaya, yang menjadi salah satu warisan terpenting mereka hingga saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa seni dan budaya bukan hanya sekadar hiasan, tetapi juga merupakan bagian penting dari identitas dan kejayaan sebuah peradaban.
6. Pentingnya Keseimbangan antara Kekuatan Militer dan Pengembangan Peradaban
Kesuksesan Dinasti Syafawi tidak hanya terletak pada kekuatan militer mereka, tetapi juga pada kemampuan mereka dalam mengembangkan peradaban yang maju. Hal ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara kekuatan militer dan pengembangan peradaban.
Kesimpulan:
Dinasti Syafawi merupakan salah satu dinasti Islam terbesar yang pernah berkuasa di Persia (Iran). Mereka berhasil membangun peradaban yang maju dalam berbagai bidang, terutama arsitektur, seni, dan filsafat. Meskipun akhirnya runtuh, warisan peradaban mereka tetap bertahan dan memengaruhi perkembangan Iran hingga saat ini. Dari sejarah Dinasti Syafawi, kita dapat belajar tentang pentingnya kepemimpinan yang kuat, identitas dan ideologi, toleransi dan keberagaman, inovasi dan adaptasi, serta keseimbangan antara kekuatan militer dan pengembangan peradaban.
Timeline Sejarah Peradaban Islam pada Masa Syafawi
1252-1334
Syekh Safi al-Din mendirikan Tarekat Syafawiyah di Ardabil, Azerbaijan. Tarekat ini awalnya adalah tarekat sunni yang kemudian menjadi cikal bakal Dinasti Syafawi.
1447-1494
Masa kepemimpinan Junaid dan Haydar, kakek dan ayah Ismail I. Pada masa ini, Tarekat Syafawiyah beralih dari tarekat sufi sunni menjadi gerakan politik-militer syiah.
1501
Ismail I merebut Tabriz dan memahkotai dirinya sebagai Shah (Raja) Persia. Ia mendirikan Dinasti Syafawi dan menjadikan Syiah Dua Belas Imam sebagai agama resmi kerajaan.
1514
Pertempuran Chaldiran antara Dinasti Syafawi dan Kesultanan Usmani. Syafawi mengalami kekalahan besar yang menghentikan ekspansi mereka ke barat.
1524-1576
Masa pemerintahan Tahmasp I, putra dan penerus Ismail I. Ia berhasil mempertahankan kekuasaan Syafawi dari serangan Kesultanan Usmani dan mengembangkan seni lukis miniatur Persia.
1588-1629
Masa pemerintahan Shah Abbas I, masa keemasan Dinasti Syafawi. Ia melakukan reformasi militer, politik, dan ekonomi yang signifikan. Abbas I juga memindahkan ibu kota ke Isfahan dan membangunnya menjadi salah satu kota terindah di dunia.
1598
Shah Abbas I memindahkan ibu kota dari Qazvin ke Isfahan dan memulai pembangunan besar-besaran di kota tersebut.
1602-1619
Pembangunan Maidan-e Naqsh-e Jahan (Lapangan Naqsh-e Jahan) dan bangunan-bangunan di sekitarnya, termasuk Masjid Shah, Masjid Sheikh Lutfullah, dan Istana Ali Qapu.
1629-1666
Masa pemerintahan Shah Safi dan Shah Abbas II. Pada masa ini, Dinasti Syafawi masih relatif stabil meskipun mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran.
1666-1694
Masa pemerintahan Shah Sulaiman. Pada masa ini, kemunduran Dinasti Syafawi semakin terlihat dengan melemahnya kontrol pusat terhadap daerah-daerah.
1694-1722
Masa pemerintahan Shah Sultan Husain, penguasa Syafawi terakhir yang efektif. Pada masa ini, Dinasti Syafawi mengalami kemunduran yang signifikan.
1722
Mahmud Afghan merebut Isfahan dan mengakhiri kekuasaan efektif Dinasti Syafawi. Shah Sultan Husain dipaksa untuk turun tahta.
1729-1732
Tahmasp II, putra Shah Sultan Husain, berusaha memulihkan kekuasaan Syafawi dengan bantuan Nadir Khan (kemudian menjadi Nadir Shah) dari suku Afshar.
1732-1736
Nadir Khan menjadi penguasa de facto Persia, meskipun secara formal masih mengakui Abbas III (putra Tahmasp II) sebagai Shah.
1736
Nadir Khan menggulingkan Abbas III dan memahkotai dirinya sebagai Nadir Shah, mendirikan Dinasti Afsharid dan secara resmi mengakhiri Dinasti Syafawi.
Evaluasi Pembelajaran
Selamat datang di evaluasi pembelajaran PAI dan BP Kelas IX BAB 10. Evaluasi ini terdiri dari 25 soal yang dibagi menjadi 5 level, masing-masing level berisi 5 pertanyaan.
Waktu pengerjaan: 60 menit
Sistem evaluasi menggunakan Multistage Adaptive Testing (MSAT). Jika gagal pada level tertentu, Anda harus kembali ke level sebelumnya.
Level 1 - Soal 1/5
Hasil Evaluasi
Nama:
Kelas:
Level Tertinggi:
Nilai:
Jawaban Benar:
Jawaban Salah:
Tentang Aplikasi
PAI dan BP Kelas IX BAB 10
Media Pembelajaran Interaktif untuk Mata Pelajaran Agama Islam dan Budi Pekerti
Pembuat Media
Nama: Asep Saefullah
Jabatan: Guru PAI SMP Kab Bekasi
WhatsApp: 087703081979
Email: asepsaefullah38@guru.smp.belajar.id
Tentang Aplikasi
Aplikasi ini dirancang sebagai media pembelajaran interaktif untuk membantu siswa kelas IX dalam memahami materi tentang sejarah peradaban Islam pada masa Syafawi di Persia.
Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur evaluasi menggunakan sistem Multistage Adaptive Testing (MSAT) yang memungkinkan siswa untuk menguji pemahaman mereka secara bertahap sesuai dengan kemampuan mereka.
Panel Guru
Daftar Nilai Siswa
Daftar Nilai Siswa - PAI dan BP Kelas IX BAB 10
| No | Nama | Kelas | Level Tertinggi | Jawaban Benar | Jawaban Salah | Nilai | Detail |
|---|